Selasa, 04 Maret 2014

Memories in Kediri Part 1

Perjalanan menuju Kediri, Jawa Timur ini berawal karena saya akan mengikuti les bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare. Saya ini terbilang cukup nekat karena sebelumnya saya belum pernah berpergian jauh sendirian, dan saya tidak tahu apa-apa tentang segala hal disana.

Akhirnya dengan berbekal informasi seadanya dari internet, pada tanggal 8 maret 2014 pukul 15.35 dari Stasiun Bandung, berangkat lah saya seorang diri menuju Kediri. Perjalanan menggunakan kereta api ini menempuh waktu sekitar 12 jam sehingga ketika saya sampai di Stasiun Kediri, waktu masih menujukan pukul 03.45 pagi. Sambil menunggu waktu adzan subuh, saya duduk di salah satu warung kopi di dekat Stasiun lalu ketika pukul 04.15 sebelum saya beranjak pergi, saya menanyakan letak Mesjid terdekat namun sang pemilik warung kopi tidak menjelaskan letak Mesjid dengan detail. Akhirnya saya berjalan menuju para tukang becak yang sedang berkumpul tak jauh dari warung kopi untuk menanyakan kembali letak Mesjid terdekat. Saat saya mendekati para tukang becak, ada 2 orang wanita yang sepertinya sedang menanyakan hal yang ingin saya tanyakan juga. Mereka terlihat kebingungan. Karena saya merasa senasib seperjuangan dengan mereka, akhirnya saya menghampiri. Ternyata mereka juga berniat pergi ke Kampung Inggris! Wah girang sekali saya ketika tau hal itu. Merasa mendapat teman baru, akhirnya saya memutuskan untuk pergi bersama-sama mereka. Mereka bernama Uka dan Gita, mahasiswi semester 6 Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. Ternyata mesjid terdekat dari Stasiun rutenya rumit dan dari kejauhan Mesjidnya tampak gelap, akhirnya setelah berdiskusi kami memutuskan untuk menaiki becak menuju tempat angkutan menuju Kampung Inggris karena di dekat situ katanya ada Mesjid yang cukup besar. Tarif naik becaknya cukup mahal untuk jarak yang lumayan dekat, yaitu 20 ribu rupiah! Duh, karena saya sudah lelah dan malas bernegosiasi akhirnya saya menyetujui tarif becak tersebut.

Setelah sampai di tempat angkutan, saya, Uka, dan Gita diajak oleh Pak Imam, sang koordinator angkutan ke Kampung Inggris, menuju ke Mesjid milik Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sebelum diantar ke Mesjid, Pak Imam menyuruh kami untuk meletakan koper kami di pinggir jalan dekat angkutan yang akan kami tumpangi. Tentu saja itu membuat kami waswas, takut kopernya hilang atau dibawa kabur. Namun Pak Imam meyakinkan kami untuk mempercayakan koper kami pada mereka. Akhirnya dengan perasaan yang masih waswas kami segera menuju Mesjid RS Bhayangkara dan sholat subuh. Alhamdulillah, begitu kembali ke tempat angkutan ternyata Pak Imam tidak bohong, koper kami tidak hilang dan sudah tersimpan rapi diatas mobil dan disana sudah bertambah orang-orang yang juga akan menuju Kampung Inggris. Satu persatu dari kami menaiki angkutan umum dan menyepakati tarif angkutan tersebut sebesar 20 ribu rupiah, namun saya dikenakan tarif 25 ribu rupiah karena menurut Pak Imam, camp saya letaknya paling jauh diantara yang lain. Sebenarnya saya ingin menawar, tapi lagi-lagi dengan alasan lelah saya jadi malas untuk menawarnya hehehe.

Perjalanan menuju Kampung Inggris memakan waktu sekitar 45 menit, selama perjalanan banyak pemandangan yang menarik perhatian saya sehingga saya dapat melupakan rasa lelah ini. Salah satu pemandangan yang paling menarik perhatian saya adalah Monumen Simpang Lima Gumul atau biasa disebut SLG. Monumen ini arsitekturnya sangat mirip dengan bangunan Arc de Triomphe di Paris. Saya jadi berkeinginan akan mengunjungi Monumen SLG ini saat weekend nanti.

Singkat cerita, tempat kursus sekaligus camp yang akan saya tempati selama 2 minggu ke depan ini bernama Hakim Learning Center yang berlokasi di Jl. Asparaga No. 64. Berbeda dengan tempat kursus lain di Pare yang rata-rata hanya membuka kursus bahasa inggris saja, Hakim Learning Center menyediakan kursus 6 bahasa diantaranya Inggris, Prancis, Jerman, Mandarin, Jepang, dan Korea. Begitu sampai disana, saya langsung disambut oleh Madame Ari, pemilik kursusan tersebut. Setelah melakukan registrasi ulang dan berbincang sebentar dengan Madame Ari, saya langsung diajak ke kamar yang akan saya tempati. Kamar tersebut akan diisi oleh saya dan seorang mahasiswi Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Bahasa Prancis yang akan kursus bahasa Prancis dan bahasa Inggris. Orang yang akan menjadi roommate saya selama 2 minggu ini bernama Nira. Namun karena Nira umurnya lebih tua dari saya, saya terbiasa menyebutnya Mbak Nira.

Keesokan harinya, pukul 07.30 kelas pertama saya dimulai, kelas pertama hari itu hanya Placement Test. Kelas ini hanya terdiri dari 4 orang, Saya, Mbak Nira, dan 2 orang teman Mbak Nira. Kedua teman Mbak Nira itu bernama Nur dan Yuli. Mereka berdua sama-sama kuliah di Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Bahasa Prancis. Yuli sudah semester 6, sedangkan Nur masih semester 4. Diawal pertemuan seperti ini, kami masih saling jaim dan tidak banyak bicara hingga akhir kelas. Duh, kaya anak kecil ya masih jaim-jaiman hehehe. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Saya, Mbak Nira, Nur, dan Yuli menjadi akrab satu sama lain. Kami melakukan berbagai aktivitas bersama-sama mulai dari sholat berjamaah sampai bersepeda sekitar Pare.

Oh ya, selain kursus di Hakim Learning Center dengan program Grammar dan Speaking, saya juga kursus di The Awareness mengambil program Speaking One. Saya sengaja mengambil 2 program speaking di 2 lembaga yang berbeda karena tujuan utama saya kursus di Pare adalah untuk memperlancar kemampuan speaking saya.

Saat hari kelima di Pare, tepatnya tanggal 13 Februari 2014, saya mengalami sebuah kejadian besar yang belum pernah saya alami sebelumnya. Gunung Kelud meletus pada kamis malam sekitar jam 10 malam, malam itu mati lampu dan Pare dilanda hujan pasir. Suasananya cukup mencekam sehingga saya lebih memilih untuk tetap berdiam diri di kamar bersama Mbak Nira walaupun Nur, Yuli, dan keluarga Madame Ari berkumpul di ruang tengah. Suara gemuruh letusan Gunung Kelud terdengar sangat jelas dan terus terdengar hingga sekitar pukul 3 pagi.

Keesokan paginya ketika saya cek handphone, ada begitu banyak messages dan missed calls dari keluarga dan teman-teman yang khawatir dan menanyakan keadaan saya karena mereka melihat berita di tv yang begitu heboh memberitakan tentang Gunung Kelud meletus. Alhamdulillah, walaupun dampak letusan Gunung Kelud begitu terasa di Pare tapi tidak parah karena lokasi Pare lumayan jauh dari puncak Kelud, yaitu sekitar 50km. Matahari pagi itu tidak tampak karena masih tertutup abu pasca letusan. Pasir tebal tampak menyelimuti seluruh Pare. Orang-orang mulai memakai masker. Mama saya sempat meminta saya untuk pulang saja karena terlalu khawatir, namun saya meyakinkan bahwa keadaan disini baik-baik saja sehingga tidak perlu ada lagi yang dikhawatirkan.

Sayang sekali, rencana saya untuk mengunjungi Simpang Lima Gumul (SLG) saat weekend harus gagal karena sepanjang jalan menuju SLG tertutup pasir tebal dan SLG dijadikan camp pengungsian korban letusan Gunung Kelud. Akhirnya weekend pertama saya di Pare hanya dihabiskan di camp dan sekitarnya saja.

Cerita-cerita menarik lainnya selama saya di Kediri akan tulis di postingan selanjutnya di Memories in Kediri Part 2. Tunggu ya! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar